Special Pleading: Jebakan Pengecualian Ego
Mari Amati Dua Standar yang Berjalan di Rumah yang Sama
Mari kita amati satu kebiasaan yang ternyata sangat umum terjadi di banyak rumah tangga.
Seorang ibu sangat tegas soal jam tidur. Setiap kali anaknya tidur lewat jam 9 malam, dia langsung menegur dengan keras, "Anak kecil itu harus disiplin, tidur lewat jam segini bisa merusak kesehatan!"
Tapi malam itu, ibu tersebut sendiri masih terjaga sampai jam 1 dini hari, menonton serial favoritnya sambil makan camilan.
Saat ditanya kenapa dia sendiri tidur larut, jawabannya, "Beda dong, aku kan sudah dewasa, badanku sudah biasa begini."
Coba amati pola ini lebih jauh. Aturan "tidur larut itu buruk untuk kesehatan" tiba-tiba berhenti berlaku begitu menyangkut diri sendiri. Padahal, secara fakta kesehatan, tidur larut tetap kurang baik untuk siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa.
Bedanya cuma satu: siapa yang sedang dibahas.
Mengenali Aturan yang Tiba-Tiba Berubah
Coba perhatikan apa yang sebenarnya terjadi dalam contoh ibu tadi.
Aturan yang dipakai untuk menilai anaknya adalah, "Tidur larut itu buruk, harus ditegakkan disiplin." Tapi begitu aturan yang sama harus diterapkan pada dirinya sendiri, muncul alasan tambahan yang tidak pernah disebutkan sebelumnya: "badanku sudah biasa begini."
Alasan tambahan ini hanya muncul saat menguntungkan dirinya. Alasan ini tidak pernah ditawarkan sebagai pengecualian yang sama untuk anaknya, meskipun secara logika, alasan serupa bisa saja berlaku untuk siapa pun.
Nama "pengecualian ego" cukup menggambarkan apa yang terjadi: seseorang membuat dirinya menjadi pengecualian khusus dari aturan yang dia sendiri tetapkan untuk orang lain, semata karena identitasnya sendiri, bukan karena ada perbedaan situasi yang benar-benar relevan.
Mengapa Kita Mudah Sekali Jatuh ke Pola Ini
Ada alasan kuat mengapa pengecualian ego ini begitu mudah terjadi, bahkan tanpa disadari.
Setiap orang secara naluri ingin melihat dirinya sendiri sebagai orang baik. Ketika tindakan kita sendiri ternyata melanggar aturan yang kita pegang, otak kita secara otomatis mencari alasan tambahan, supaya gambaran "saya orang baik" tetap terjaga.
Hal yang sama berlaku untuk orang-orang dekat kita. Karena kita sayang kepada mereka, kita cenderung mencari alasan pemaaf untuk kesalahan mereka, sementara orang yang tidak kita kenal dekat langsung dinilai dengan aturan yang kaku.
Teknik Sederhana Menguji Keadilan Sebuah Aturan
Ada satu cara mudah untuk memeriksa apakah Anda atau orang lain sedang melakukan pengecualian ego: uji cermin setara.
Caranya begini. Bayangkan orang lain—orang yang tidak Anda kenal dekat—melakukan persis hal yang sama, dengan alasan yang persis sama juga. Tanyakan pada diri sendiri, "Apakah saya akan tetap memaafkan atau memaklumi tindakan itu?"
Jika jawabannya tidak, berarti alasan yang Anda pakai bukan alasan yang benar-benar relevan. Alasan itu hanya berlaku karena siapa orangnya, bukan karena situasinya memang berbeda.
Kembali ke contoh ibu dan jam tidur. Bayangkan tetangga sebelah, yang juga sudah dewasa, tidur larut sambil menonton serial. Apakah ibu tersebut akan berkata, "Wajar saja, badannya kan sudah biasa begini"? Kemungkinan besar tidak. Dia justru akan menilai kebiasaan itu sebagai sesuatu yang kurang baik untuk kesehatan, sama seperti penilaiannya pada anaknya sendiri.
Seorang pelatih klub bulu tangkis sangat keras menegur murid yang datang terlambat lebih dari sepuluh menit, "Disiplin waktu itu wajib, tidak ada alasan." Suatu hari, anaknya sendiri yang juga murid di klub itu datang terlambat dua puluh menit. Pelatih hanya berkata, "Tidak apa-apa, kan cuma anak Bapak sendiri." Manakah pertanyaan uji cermin setara paling tepat untuk situasi ini?
Hati-Hati, Jangan Sampai Anda Menolak Alasan yang Memang Relevan
Ada jebakan terbalik yang juga perlu diwaspadai.
Tidak semua perbedaan cara menangani dua orang dalam situasi serupa adalah pengecualian ego. Ada kalanya perbedaan situasi memang benar-benar relevan, sehingga penanganan yang berbeda justru adil.
Misalnya, seorang pelatih memaafkan satu murid yang terlambat karena ada anggota keluarganya yang sakit keras dan harus diantar ke fasilitas kesehatan terlebih dahulu, sementara murid lain yang terlambat hanya karena bangun kesiangan tetap ditegur. Ini bukan pengecualian ego, karena alasan keterlambatannya memang berbeda secara nyata, bukan sekadar karena hubungan kedekatan.
Bedanya terletak pada satu hal: apakah alasan pembeda itu benar-benar berkaitan dengan situasinya, atau cuma soal siapa orangnya?
Jika alasannya memang relevan dengan situasi, perbedaan penanganan itu sah dan adil. Jika alasannya cuma soal kedekatan atau identitas, di sanalah pengecualian ego sedang terjadi.
Ingat-ingat satu aturan yang Anda pegang untuk menilai orang lain, lalu periksa apakah Anda menerapkan aturan yang sama untuk diri sendiri atau orang dekat Anda.
Tuliskan aturannya, lalu tuliskan juga bagaimana Anda menilai diri sendiri saat melakukan hal yang sama.
Gunakan uji cermin setara: bayangkan orang yang tidak Anda kenal dekat melakukan hal yang sama dengan alasan yang sama. Apakah Anda akan tetap memaafkannya?
Jika jawabannya tidak, Anda baru menemukan satu pengecualian ego dalam hidup Anda sendiri.
Rangkuman
Special Pleading terjadi saat seseorang menerapkan aturan atau standar penilaian yang berbeda untuk diri sendiri atau orang dekatnya, sementara orang lain tetap dituntut mengikuti aturan yang sama secara kaku.
Tandanya mudah dikenali: muncul alasan tambahan yang hanya dipakai saat menguntungkan diri sendiri, dan alasan itu tidak pernah ditawarkan sebagai pengecualian yang sama untuk orang lain.
Cara mengujinya: uji cermin setara. Bayangkan orang lain melakukan hal yang sama dengan alasan yang sama, lalu tanyakan apakah Anda akan tetap memaafkannya.
Bab berikutnya membahas taktik licik lain yang sering muncul saat seseorang sudah berhasil memenuhi sebuah kesepakatan, tapi syaratnya tiba-tiba digeser lebih jauh oleh pihak lain.
Tabel Referensi Cepat
| Konsep / Istilah | Definisi Singkat | Cara Menguji / Menghindari |
|---|---|---|
| Special Pleading | Menerapkan aturan berbeda untuk diri sendiri atau orang dekat, sementara orang lain dituntut patuh secara kaku | Gunakan uji cermin setara sebelum memberi pengecualian kepada diri sendiri |
| Alasan Tambahan demi Ego | Alasan yang muncul hanya saat menguntungkan diri sendiri, tidak pernah ditawarkan untuk orang lain | Tanyakan: "Apakah alasan ini akan saya terima jika dilakukan orang lain?" |
| Uji Cermin Setara | Membayangkan orang lain melakukan hal yang sama dengan alasan yang sama, lalu menilai keadilannya | Bayangkan pelakunya orang yang tidak Anda kenal dekat, lalu nilai ulang |
| Perbedaan Situasi yang Relevan | Perbedaan penanganan yang sah karena situasinya memang benar-benar berbeda, bukan sekadar soal kedekatan | Pastikan alasan pembeda berkaitan dengan situasi, bukan dengan siapa orangnya |