Post Hoc: Hubungan Sebab-Akibat Palsu

Dua kejadian berurutan tidak berarti yang pertama menyebabkan yang kedua—tapi otak Anda akan bersumpah bahwa iya.

Dua Kejadian, Satu Kesimpulan yang Terlalu Cepat

Anda sedang duduk di warung kopi. Hujan baru saja reda.

Di meja sebelah, seorang bapak berbicara kepada temannya: "Tahu nggak, tadi pagi saya cuci jemuran sampai bersih. Eh, siang langsung hujan. Tiap kali saya cuci baju, pasti hujan turun. Sudah terbukti berkali-kali!"

Temannya mengangguk sambil tertawa: "Sama! Saya juga begitu."

Anda tersenyum. Ceritanya lucu. Tapi di dalam kepala, Anda tahu ada yang tidak beres.

Apakah jemuran yang bersih benar-benar bisa memanggil hujan? Tentu tidak. Tapi mengapa klaim itu terasa begitu masuk akal saat didengar?

Jawabannya: karena dua kejadian itu memang benar-benar terjadi berurutan. Dan otak manusia sangat pandai—terlalu pandai—dalam melihat pola dari urutan.

Ketika Urutan Terasa Seperti Bukti

Ada sesuatu yang sangat menggoda dari dua kejadian yang berurutan.

Pertama ini, lalu itu. Pertama minum jamu, lalu sembuh. Pertama pakai kaos kaki kiri dulu, lalu tim favorit menang. Pertama pindah jalur, lalu macet terurai.

Otak langsung menarik kesimpulan: yang pertama pasti menyebabkan yang kedua.

Kesalahan ini sangat umum karena terasa sangat intuitif. Urutan waktu adalah petunjuk paling mudah yang bisa ditangkap oleh mata dan ingatan kita. Masalahnya, urutan waktu bukan bukti penyebab.

Faktor Ketiga yang Sering Luput

Salah satu alasan Post Hoc sulit dideteksi adalah adanya faktor ketiga yang tidak terlihat—sesuatu yang menyebabkan dua kejadian terjadi berdekatan, tanpa keduanya saling memengaruhi.

Ketika dua hal selalu muncul bersama, pertanyaan pertama yang perlu diajukan bukan "mana yang menyebabkan mana?" — tapi "apakah ada faktor lain yang menyebabkan keduanya terjadi sekaligus?"

Kenapa Ini Berbahaya di Kehidupan Nyata

Post Hoc bukan sekadar lelucon soal cuci baju dan hujan.

Dalam keputusan nyata, kesalahan ini bisa membawa konsekuensi yang cukup serius.

Bayangkan seseorang yang sudah berminggu-minggu merasa lesu dan kurang bertenaga. Ia mencoba tidur lebih awal selama tiga hari, dan kebetulan di hari keempat ia merasa lebih segar. Ia menyimpulkan: "Tidur lebih awal menyembuhkan saya."

Mungkin memang begitu. Tapi bisa juga keluhan itu memang sudah akan mereda dengan sendirinya—dan tidur lebih awal hanya kebetulan dilakukan di saat yang sama.

Kalau ia tidak mempertanyakan ini, ia mungkin akan mengabaikan kemungkinan lain yang lebih penting—bahwa tubuhnya butuh perhatian yang lebih serius dari sekadar perbaikan jam tidur.

Rangkuman

Post Hoc adalah kesalahan logika yang terjadi saat seseorang menyimpulkan bahwa karena Kejadian B terjadi setelah Kejadian A, maka A pasti menyebabkan B.

Urutan waktu terasa seperti bukti—tapi bukan. Dua kejadian bisa berurutan karena kebetulan, karena keduanya dipengaruhi faktor ketiga yang tidak terlihat, atau karena memang ada hubungan yang nyata. Ketiga kemungkinan itu perlu diperiksa sebelum kesimpulan dibuat.

Cara mengujinya: tanyakan "apakah ada faktor lain yang mungkin menyebabkan ini?" dan "apakah ada hari-hari di mana urutannya sama tapi hasilnya berbeda?"

Bab berikutnya membahas sesuatu yang tak kalah menarik: kenapa kondisi yang sedang di titik paling buruk hampir selalu membaik—dan bagaimana otak kita salah mengaitkan pemulihan itu dengan hal terakhir yang kita lakukan sebelumnya.

Tabel Referensi Cepat

Konsep / IstilahDefinisi SingkatCara Menguji / Menghindari
Post HocMenyimpulkan bahwa A menyebabkan B hanya karena A terjadi lebih duluTanyakan: "Apakah ada bukti hubungan langsung, atau hanya kebetulan urutan?"
Faktor KetigaPenyebab tersembunyi yang membuat dua kejadian tampak saling berhubunganCari kemungkinan lain yang bisa menjelaskan keduanya sekaligus
Pengulangan KebetulanKejadian yang berulang beberapa kali terasa seperti pola yang terbuktiIngat juga hari-hari di mana urutannya sama tapi hasilnya berbeda
Uji Faktor LainMempertanyakan apakah penyebab yang diklaim benar-benar satu-satunya penyebabTanyakan: "Apa lagi yang berbeda di hari itu yang mungkin ikut berperan?"