Appeal to Authority: Jebakan Nama Besar
Mari Amati Satu Video yang Beredar di Linimasa
Mari amati sesuatu yang mungkin pernah Anda lihat sendiri di linimasa media sosial.
Seorang aktor terkenal, wajahnya familier, suaranya tenang dan meyakinkan, membuat video pendek. Ia memegang sebuah produk saringan air sambil berkata dengan yakin, "Saya pakai ini setiap hari, dan saya percaya ini bisa membantu mencegah kanker."
Video itu disukai ribuan orang dalam hitungan jam. Komentar-komentar memuji betapa pedulinya sang aktor pada kesehatan penontonnya.
Anda menonton video itu. Anda merasa, "Kalau dia bilang begitu, mungkin memang benar."
Tapi coba berhenti sejenak. Apa sebenarnya yang membuat Anda percaya? Apakah karena Anda sudah membaca hasil penelitiannya? Atau semata karena wajah itu familier dan terasa meyakinkan?
Wajah yang Dikenal Bukan Berarti Ahli di Segala Hal
Coba periksa kembali apa yang sebenarnya terjadi di video itu.
Sang aktor memang dikenal banyak orang. Tapi dikenal di bidang apa? Bermain peran di depan kamera. Bukan meneliti penyakit. Bukan mempelajari kandungan air. Tidak ada hubungan apa pun antara keahliannya di depan kamera dengan klaim kesehatan yang baru saja ia ucapkan.
Perhatikan kata kuncinya: tidak relevan. Bukan berarti semua kata dari orang terkenal pasti salah. Yang menjadi masalah adalah ketika ketenaran di satu bidang dipakai sebagai jaminan kebenaran di bidang lain yang sama sekali berbeda.
Mengapa Wajah yang Dikenal Begitu Mudah Mengalahkan Akal Sehat
Bayangkan situasi lain.
Seorang juara lomba lari maraton membuat unggahan yang menyarankan jenis suplemen tertentu untuk mengatasi masalah pencernaan. Banyak orang langsung memesan suplemen itu, karena merasa, "Dia atlet, badannya sehat, pasti dia tahu yang terbaik untuk tubuh."
Tapi coba pikirkan lagi. Kemampuan berlari cepat dan ketahanan stamina memang keahlian sang atlet. Tapi memahami kandungan zat dalam suplemen dan dampaknya pada pencernaan adalah bidang yang sama sekali berbeda. Larinya cepat tidak berarti pengetahuannya soal pencernaan juga ikut ahli.
Otak kita memang punya kecenderungan menyamaratakan. Begitu kita melihat seseorang unggul di satu bidang, kita cenderung menganggap ia juga unggul di bidang lain—padahal dua bidang itu bisa sama sekali tidak berhubungan.
Uji Ruang Lingkup Keahlian
Sekarang Anda sudah bisa mengenali jebakannya. Pertanyaannya: bagaimana cara menyaring klaim semacam ini sebelum Anda ikut mempercayainya?
Caranya sederhana. Tanyakan dalam hati: "Apakah orang ini punya pengetahuan atau pengalaman nyata di bidang yang sedang ia bicarakan, atau ia hanya terkenal di bidang lain yang berbeda?"
Kembali ke contoh video saringan air tadi. Pertanyaannya bukan, "Apakah aktor ini terkenal?" Jawabannya jelas: ya, ia memang terkenal. Pertanyaan yang benar adalah, "Apakah ia punya dasar ilmu kesehatan yang relevan dengan klaim soal kanker yang ia ucapkan?" Jika jawabannya tidak, ketenarannya menjadi tidak relevan untuk klaim tersebut.
Kapan Mendengarkan Orang Terkenal Memang Masuk Akal
Apakah ini berarti Anda harus mengabaikan semua ucapan orang terkenal?
Tidak. Ada kalanya ketenaran seseorang memang berasal dari keahliannya sendiri di bidang yang sedang dibicarakan. Itu bukan Appeal to Authority—itu memang mendengarkan ahli yang relevan.
Bayangkan ada dua video berbeda. Video pertama dibuat oleh seorang dokter gigi yang menjelaskan cara merawat gigi berlubang. Video kedua dibuat oleh seorang aktor yang menjelaskan hal yang sama.
Pada video pertama, ketenaran sang dokter gigi—jika ia memang dikenal—justru sejalan dengan keahliannya. Topik yang dibicarakan memang ada di ruang lingkup ilmunya.
Pada video kedua, meski sang aktor mungkin lebih populer dan lebih meyakinkan saat berbicara, topik gigi berlubang berada jauh di luar bidang yang ia kuasai.
Pertanyaan pembeda selalu sama: apakah ketenaran orang ini berasal dari keahlian yang sedang ia bicarakan, atau dari bidang lain yang berbeda? Jika dari bidang yang sama, mendengarkannya menjadi wajar. Jika dari bidang yang berbeda, ketenarannya tidak relevan untuk topik itu.
Ingat satu klaim atau saran yang pernah Anda percaya karena disampaikan oleh seseorang yang terkenal atau memiliki nama besar.
Tanyakan pada diri sendiri: apakah ketenaran orang itu memang berasal dari bidang yang sedang ia bicarakan, atau dari bidang lain yang berbeda?
Jika ternyata berasal dari bidang yang sama sekali berbeda, Anda baru menemukan satu Appeal to Authority dalam kepercayaan Anda sendiri. Anda tidak harus langsung menolak klaim itu sepenuhnya, tapi sekarang Anda tahu bahwa Anda perlu mencari bukti tambahan sebelum benar-benar mempercayainya.
Rangkuman
Appeal to Authority terjadi saat Anda percaya buta pada ucapan seseorang hanya karena ia terkenal atau punya nama besar, meski topik yang dibicarakan sama sekali bukan bidang keahliannya.
Tandanya mudah dikenali: rasa percaya muncul dari wajah yang familier atau status yang dikenal, bukan dari bukti atau dasar pengetahuan yang relevan.
Cara mengujinya: uji ruang lingkup keahlian. Tanyakan apakah ketenaran orang itu memang berasal dari bidang yang sedang ia bicarakan, atau dari bidang lain yang berbeda.
Bab berikutnya membahas jebakan yang masih erat berhubungan: bagaimana kemasan yang indah dan tampilan yang mewah bisa membuat kita yakin isinya pasti berkualitas, meski belum pernah kita periksa sama sekali.
Tabel Referensi Cepat
| Konsep / Istilah | Definisi Singkat | Cara Menguji / Menghindari |
|---|---|---|
| Appeal to Authority | Percaya buta pada ucapan seseorang hanya karena ia terkenal, meski tidak relevan dengan topik yang dibahas | Tanyakan: "Apakah ketenarannya berasal dari bidang yang sedang ia bicarakan?" |
| Ruang Lingkup Keahlian | Batas bidang tempat keahlian seseorang benar-benar berlaku dan bisa diandalkan | Periksa relevansi bidang sebelum mempercayai klaim, bukan sekadar status ketenaran |
| Ahli yang Relevan vs Sekadar Terkenal | Dua hal berbeda; satu keahliannya sejalan dengan topik, satu hanya populer di bidang lain | Bandingkan bidang asal ketenarannya dengan topik klaim yang sedang disampaikan |
| Pendapat Pribadi vs Nasihat Tepercaya | Siapa pun boleh punya pendapat, tapi pendapat itu belum otomatis menjadi nasihat yang valid | Cari rujukan dari orang yang memang memiliki dasar ilmu di bidang tersebut |